Posted in Cerita Hani, Daily Life Hani, Inspiratif, Wattpad

Curhat Akhir Tahun: Mengikuti Perlombaan Menulis Selama 2020

Halo apa kabar?

Tak terasa sekitar empat hari lagi kita akan meninggalkan tahun 2020 dan memasuki lembar tahun maehi yang baru 2021. Tidak seperti menjelang akhir tahun baru yang diisi dengan pertanyaan-pertanyaan ‘Apa pencapaian terbesarmu tahun ini?”, “Apa resolusimu untuk tahun 2020?”, “Target apa yang ingin kamu capai di tahun 2020?”, “Hasil evaluasi yang kamu peroleh tahun ini ini yang dapat diaplikasikan pada tahun berikutnya apa saja?” dan masih banyak pertanyaan lain ang memacu semangat untuk menjadi lebih baik dan berprestasi dibandng tahun sebelumnya.

Namun tahun ini, saya merasa pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak dibutuhkan. It’s bullshit! Pandemi COVID 19 yang melanda dunia pada awal tahun 2020 -di Indonesi tepatnya terjadi di bulan Maret, dari dua orang yang terkonfirmasi positif COVID 19 semakin lama semakin bertambah. Hari ini 27 Desember 2020 tercatat sebanyak 713,365 orang terkonfirmasi positif COVID-19 dengan penambahan kasus pada hari ini sekitar 6528 orang. Dari satu dua orang yang terkonfirmasi positif kini meningkat menjadi ribuan orang terkonfirmasi.

Statistik yang menakutkan terlebih ini menyangkut nyawa manusia-manusia yang hidup di bumi ini, menyangkut orang yang memiliki peran dalam kehidupan orang lain entah sebagai pacar, sahabat, orangtua dan lainnya. Menuliskan hal ini, seketika saya teringat kata-kata Teh Lenny Martini dalam kelas literasi komunitas Aleut dengan topik Membangun Sistem Sosial yang mumpuni dalam Menghadapi Wabah, karena COVID-19 bukan hanya tentang kita! Ya COVID-19 bukan hanya tentang kita melainkan tentang banyak orang yang terangkum dalam sebuah sistem besar bernama masyarakat.

Jangan sampai keabaian kita menerapkan protokol kesehatan memberikan dampak besar untuk orang lain, mencuri sesuatu milik orang lain!

Pandemi COVID-19 membuat saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, tak seperti sebelumnya. Dalam setahun terakhir, perjalanan saya ke luar kota atupun mengitari Kota Bandung dapat dihitung dengan jari. It’s so tired but what can I do? Having a mom who is more than 70 years old makes me worry about having to travel far out of town for example. And my mom also has her own fear if the virus attacks her. If I go to a hangout, my mother will nag and lecture me about the dangers of COVID-19, even I go there alone.

Di rumah membuat saya memiliki banyak sekali waktu luang yang kemudian saya pergunakan untuk mengikuti kelas online dari Universitas Alveiro, Portugal dan Komunitas Aleut. Selebihnya saya memperdalam beberapa bahasa asing (seperti Bahasa Jerman dan Bahasa Spanyol) serta membaca banyak buku. Di sela-selanya, saya kembali menekuni hobi lama, menggambar dan mewarnai. Ya segala hal yang terasa yang terasa menyenangkan saya lakukan untuk tetap sehat secara fisik maupun mental.

 Bagi saya, 2020 memiliki arti yang banyak. Banyak kegagalan yang saya dapat di tahun ini. Ada banyak kesedihan yang saya alami di tahun ini. Ada air mata yang tumpah menggerogoti baja ketegaran hati. Ada pula hal-hal baru yang saya coba untuk geluti. Salah satunya menulis fiksi dan mengirimkannya untuk mengikuti lomba.

Menulis fiksi dengan tema atau topik yang ditentukan, sungguh hal yang sulit! Terlebih jumlah kata yang ditentukan serta banyaknya liker dan fans menentukan.

Dan memang. Tulisan saya memang bukan menyasar topik-topik yang disukai pembaca Indonesia sehingga tidak terlalu menarik perhatian penerbit. Kalaupun ada penerbit yang menangkat topik-topik di out of the box, penulisan alur saya, konsep yang masih mengambang, penyuasanaan pembaca yang masih tidak matang serta bahasa yang saya gunakan terlalu kaku menyebabkan juri tidak memilih tulisan saya. Saya mengakui kelemahan saya tersebut.

Setidaknya tahun ini saya telah mencoba menulis beberapa cerpen yang diperuntukan untuk lomba dan kenyataan saya masih harus belajar banyak!

Mungkin teman-teman di wordpress ada yang tertarik untuk membaca cerpen saya yang dimuat di beberapa platform untuk diperlombakan, mungkin dapat meng-klik link sesuai dengan judulnya.

  1. Tarung Ayam, cerpen yang saya tulis untuk mengikuti kompetisi menulis cerpen ‘Meretas Budaya Lewat Cerita’ yang diadakan GWP (Gramedia Writing Project) bekerja sama dengan Gothe Institute, Wikimedia, LIPI dan beberapa lembaga lain. Konsep kompetisi ini adalah menuliskan cerita yang membuat beberapa data sejarah ataupun data yang telah ditentukan oleh pihak penyelenggara. Tentu kompetisi ini tergolong cukup sulit, mengingat data-data yang tersedia bukanlah data budaya yang lazim ataupun sejarah popular. Kompetisi ini memberi tantangan untuk saya untuk menuliskan sebuah cerita dan mengaitkannya dengan data historis yang ada. Jumlah kata juga membuat saya kewalahan untuk mengatasinya. Dalam kompetisi ini disyaratkan untuk menulis minimal 2500 kata dan maksimal 5000 kata dalam satu cerpen. Hal yang benar-benar membuat saya memutar otak untuk memastikan agar syarat terpenuhi selain alur cerita dan lainnya. Jika teman-teman tertarik untuk membacanya, silakan cari buka laman berikut: gwp.id/tiarahmi atau klik link ini. Catatan: GWP merupakan platform penulisan fiksi daring yang merupakan bagian dari Kompas-Gramedia grup
  2. Kesempurnaan untuk Nayra, salah satu cerpen yang saya tulis untuk mengikuti Lomba Cerpen Zodiak yang diselenggarakan penerbit inari bekerjasama dengan penulis Zodiac, Alexander Tian. Bagi saya menulis cerpen bertema zodiak termasuk hal yang sulit mengingat saya telah meninggalkan kepercayaan zodiak mempengaruhi nasib manusia sejak duduk dibangku perkuliahan (sekitar 12 tahun yang lalu). Untuk mengikuti perlombaan yang diadakan dari 19 Agustus hingga 20 September ini, saya melakukan riset dengan membaca kembali ramalan bintang harian dari salah satu berita dari selama dua minggu berturut-turut. Akhirnya saya memutuskan memilih zodiak perawan suci yang dikenal sebagai virgo, zodiak yang akan menaungi tokoh utama dalam cerpen saya kali ini. Virgo dan hubungannya dengan zodiak setelahnya, Libra juga menjadi inspirasi saya untuk salah satu cerpen saya yang diikutikan pada perlombaan berikutnya. Orang-orang yang dinaung zodiak ini terkenal sebagai orang yang perfectionist, realitis, dan terencana. Namun apa yang akan terjadi jika salah satu kesempurnaan hidup yang telah mereka rencanakan tidak seindah dalam bayangannya? Teman-teman dapat menemukannya dalam cerpen Kesempurnaan untuk Nayra yang saya unggah di wattpad dengan user id: tiarahmi atau klik link ini. Namun lagi-lagi pembatasan maksimal kata yang digunakan menjadi kelemahan saya untuk mengembangkan cerita ini menjadi lebih baik.
  3. Surat Cinta untuk Pradipta, naskah yang saya tulis untuk mengikuti Kontes Young Adult Indonesia bertemakan Surat untuk Cinta Pertama. Kontes ini diselenggarakan YAI yang merupakan Wattpad Indonesia. Lagi-lagi maksimal kata menjadi kendala saya untuk memaksimalkan surat cinta ini sehingga menyentuh hati. Dari YAI mempersyaratkan 600 kata sebagai batas maksimal untuk kontes ini. Tentu hal ini menjadi kesulitan tersendiri bagi saya untuk bercerita. Surat Cinta untuk Pradipta dapat teman-teman baca di akun wattpad saya wattpad.com/tiarahmi atau di link ini
  4. Cinta untuk Wida, cerpen romance yang saya tulis untuk mengikuti Sayembara Menulis Menuju 10 Tahun Penerbit Shofia dalam kategori cerita cinta.  
  5. Kotak Pandora cerpen detektif yang saya tulis untuk mengikuti Sayembara Menulis Menuju 10 Tahun Penerbit Shofia dalam kategori cerita detektif. Saya cukup mengenal beberapa novel detektif yang diterbitkan penerbit ini. Kualitas cerita detektifnya memang bagus. Salah satu karya yang diterbitkan Penerbit Shofia dengan judul Sang Perwarta yang ditulis oleh Aru Armando terpilih menjadi Best First Novel dalam ajang Scarlet Pen Awards 2020 (sebuah ajang anugerah fiksi krimila yang diselenggarakan detective_id setiap tahunnya) dan tahun ini Kertas Hitam yang ditulis Aru Armando juga mausk nominasi Scarlet Pen Awards 2021 untuk kategori Best Novel dan Best Thriller.

Untuk dua cerita terakhir, saya tidak bisa memberikan link-nya karena berkas dikirimkan langsung ke Penerbit Shofia. Saya mungkin akan bertanya terlebih dahulu pada penyelenggara dua lomba terakhir mengenai nasib naskah yang tidak terpilih serta kemungkinan diperoblehkan untuk diuplad dalm plaform dari untuk dibaca kalayak ramai.

Sekian cerita saya untuk wordpress.

Minggu, 27 Desmber 2020

5.40

Posted in Cerita Hani, Daily Life Hani, Fiksi, Resensi Buku, Storial, Uncategorized, Wattpad

Ketika saya mencoba untuk menulis fiksi

29 Februari 2020

Akhirnya saya kembali mencoba untuk menulis di blog setelah sekian lama vakum. Sebenarnya saya tidak benar-benar vakum dalam kegiatan menulis, hanya saja saya menulis untuk kebutuhan lain –dalam hal ini terkait pekerjaan.

Di sela-sela kesibukan pekerjaan saya, saya tetap menyempatkan menulis. Tentu bukan artikel ataupun tukisan-tulisan yang biasa saya tulis untuk aleut yang saya kerjakan. Saya mencoba untuk menulis sebuah naskah novel atau cerpen. Menulis sebuah fiksi merupakan sesuatu yang baru dalam hidup selama beberapa bulan terakhir.

Menulis sebuah fiksi merupakan tantangan tersendiri untuk saya karena selama ini saya terbiasa untuk menulis dalam bentuk artikel ilmiah, artikel koran, dan catatan perjalanan.

Ketika saya menulis artikel ilmiah, aspek ilmiah dan keteraturan sesuai aturan yang telah ditetapkan perlu diperhatikan. Semua dimulai dengan judul artikel diikuti dengan abstrak yang mencakup isi keseluruhan artikel yang ditulis secara singkat padat dan jelas. Selanjutnya bagian pendahuluan yang menceritakan latar belakang tulisan ditulis (latar belakang, tujuan, penelitian terdahulu, manfaat dari tulis tersebut ditulis), kemudian dilanjutkan dengan metodologi penelitian yang digunakan – waktu, lokasi penelitian, cara pengambilan sampel juga ditulis secara singkat, padat, dan jelas pada bagian ini. Setelahnya bagian pembahasan diikuti dengan kesimpulan serta daftar referensi yang digunakan. Semua ditulis dengan bahasa ilmiah dan baku.

Untuk artikel yang dimuat di website komunitas aleut ataupun lainnya, proses yang saya lakukan hampir sama dengan menulis artikel ilmiah, hanya saja tidak terlalu rinci. Terkdang dalam artikel saya juga memasukan opini personal untuk menegaskan bahwa tulisan ini merupakan semi ilmiah. Gaya bahasa yang digunakanpun cendrung lebih santai.

Ketika menulis catatan perjalanan, kebanyakan saya mendeskripsikan perjalanan yang saya tempuh. Banyak nama orang, tempat, keterangan-keterangan yang diperoleh selama perjalan yang saya tulis di dalam tulisan tersebut. Dalam beberapa kesempatan opini dan emosi pribadi juga ditunjukan dalam tulisan tersebut. Gaya bahasa yang saya gunakan pun sangat santai.

Namun ketika saya menulis sebuah naskah fiksi banyak hal yang perlu saya perhatikan. Seperti penentukan tema yang akan diangkat menjadi cerita. Lalu menentukan tokoh beserta karakter. Tak cukup hanya sampai di situ, saya harus mengaitkan baik antara satu tokoh dengan tokoh yang lain dalam bentuk interaksi. Karakter tak cukup hanya dideskripsikan melalui narasi namun juga harus terlihat dari dialog dan interaksi antar mereka. Belum lagi, saya harus memikirkan pengembangan karakter para tokoh hingga akhir cerita.

Selanjutnya menentukan alur cerita dan konflik-konflik yang mewarnai cerita tersebut. Setelah itu, merangkai itu semua menjadi suatu narasi fiksi. Bukan sesuatu hal yang mudah

Agar perasaan dan makna yang ingin disampai kepada pembaca tersampaikan. Saya harus menghayati emosi dari tiap karakter yang terdapat dalam fiksi. Emosi disesuaikan dengan karakter yang mempengaruhi tindakan yang mereka ambil dan mempengaruh keseluruahn cerita. Itu hal yang benar-benar menyebalkan buat saya. Karena beberapa kali ketika menulis fiksi, saya kehilangan penghayatan terhayat emosi para tokoh.

Itu menyebalkan.

Itu pula salah satu alasan yang membuat kebanyakan naskah fiksi yang saya tulis masih menggantung –atau belum mencapai ending. Selain kendala ide dalam kepala.

Beberapa bulan saya mencoba menulis fiksi (novel) membuat saya belajar banyak hal terutama tentang menghargai proses yang tengah dijalani. Dari proses penulisan fiksi ini, saya juga ingin meminta maaf kepada semua penulis fiksi. Jujur saja awalnya, saya kurang menghargai penulis novel karena selalu berkutat dengan perasaan, imajinasi, hubungan antar manusia, kurang banyak pengetahuan yang didapatkan dan berbagai macam pendapat yang menyudutkan. Namun, sekarang saya menghargai setiap ide yang mereka coba tuliskan dalam karya mereka karena menulis fiksi itu tidak mudah!

Selain menghargai proses yang dijalani, saya juga belajar bercerita secara lisan lebih mudah dibandingkan menuliskan. Emosi yang ingin disampaikan lebih tergambar ketika seseorang bertutur menceritakan suatu cerita dibandingkan ketika harus menuliskannya menjadi sebuah cerita fiksi.

Begitulah perasaan dan pembelajaran yang saya dapatkan selama menulis fiksi dalm beberapa bulan terakhir.

Untuk penulisan ini, saya menulis dalam 2 platform penulisan online yaitu storial.co dan wattpad.com.

Kenapa tidak di blog atau wordpress?

Tidak ada alasan khusus untuk tidak menulis cerita saya dalam blog atau wordpress. Hanya saja, saya ingin wordpress atau blog diisi dengan artikel ataupun review. Ya.. Saya hanya ingin membagi segmentasi penulisanku ke dalam beberapa platform.

Jika teman-teman tertarik untuk membaca naskah cerita saya, silakan klik tautan yang tercantum. Saya harap teman-teman mau untuk memberikan vote ataupun sekedar memberi komentar.

Komentar teman-teman berharga sebagai bahan berbaikan naskah tersebut ataupun bahan perbaikan untuk naskah-naskah yang akan saya tulis di masa mendatang. Sedangkan vote berguna sebagai penyemangat saya dalam menulis.

Naskah yang tayang di Platform Storial.co:

  1. Dealine
  2. Hide and Seek
  3. Healing Kiya Soul

Naskah yang tayang di Platform Wattpad:

  1. Re write the star
  2. Hide and Seek
  3. Healing Kiya’s Soul
  4. Sepenggal cerita (kumpulan cerpen)

Naskah yang terdapat di dalam laptop: (masih rahasia)

 

Selamat membaca !

Posted in Cerita Hani, Cerita Pendek, Fiksi

Berjuang Itu Bersama

Note: Halo readers… Apa kabar? Kali ini tulisan yang aku unggah adalah cerpen yang pernah kutulis beberapa bulan silam. Selain aku posting di blog ini, tulisan ini aku posting di  wattpad-ku 

Selamat membaca..

***

Tiga hari lamanya aku tidak keluar dari kamar. Tiga hari pula Akira menjadikan ruang tamu apartemenku sebagai kamarnya. Hari in kuputuskan untuk keluar dari kamar.

“Krek”

“Akhirnya tuan putri keluar juga dari persembunyian,” candanya dengan sarkas.

Kubuang nafas kasar lalu berjalan menuju sofa yang sudah tiga hari menjadi kasur Akira. Kuperhatikan kekacauan di sekitar sofaku. Selimut tipis teronggok di atas karpet, Botol Coca-Cola dan serpihan kripik singkong berserakan di atas meja.

“Geser,” ujarku sambil mendorong tubuhnya. Akira merubah posisinya dari tidur menjadi duduk sehingga memberikan ruang kosong untuk aku duduki. Akupun menjatuhkan diri di samping Akira, dengan mata tertuju pada National Geographic Channel yang seperti sudah dia putar sejak semalam.

Kutatap layar LCD dengan tatapan hampa. Perlahan air mataku kembali berlinang ketika mengingat kejadian 3 hari yang lalu.

“Yang namanya berjuang itu bersama-sama bukan sendiri. Kalau berjuang sendiri itu namanya bunuh diri,” ujarnya pelan sembari meregangkan otot punggungnya lalu kemudian menguap.

Aku tau persis, kata-kata tersebut merupakan wejangannya atas peristiwa yang kualami 3 hari lalu. Seorang yang hampir menjadi kekasih selama 1 dasawarsa, tiba-tiba mengakhiri hubungan kami melalui DM. Menyakitkan. Menyebalkan.

Apa susahnya untuk menelpon atau videocall jika menurutnya jarak merupakan halangan untuk kami membicarakan omongan serius. Takut menyakitiku. Alasan klise. Di mana-mana, diputuskan itu merupakan hal yang menyakitkan terutama jika diputuskan dengan alasan yang tidak masuk akal.

“Ketika kamu memperjuangkan dia dengan caramu seharusnya dia juga harus memperjuangkanmu dengan caranya, bukan menyerah pada keadaan.” sambungnya.

Aku terdiam. Kupikirkan semua perkataaan yang keluar dari mulut Akira dengan nalar dan logika.  2 hal tersebut baru muncul setelah 3 hari aku mengurung diri, meratapi kisah percintaan yang kandas. Benar adanya yang dikatakan Akira, selama ini kebanyakan aku yang berjuang sendiri. Menciptakan imagenya sebagai calon menantu idaman di mata kedua orang tuaku, memberikan bayangan masa depan yang sebenarnya cuma ada dalam hayalanku -karena dia tidak pernah mengatakan apapun tentang masa depan hubungan kami-, mengorbankan waktu selepas kerja hanya untuk menelponnya, dan tentunya masih banyak hal lain. Selama ini semua berasal dari pihakku saja. Sementara dia, aku sendiri tidak tahu perjuangan macam apa yang dia lakukan, kecuali menelponku ketika dia butuh. Hanya itu.

Pikiranku semakin mengembara, mengenang kembali kebersamaan kami selama ini. Mengenang tentang apa yang telah kami lakukan, porsi siapa yang lebih banyak berusaha untuk mempertahankan hubungan percintaan ini. Sampailah aku pada satu kesimpulan, cuma aku yang berjuang untuk hubungan ini tetap ada. Ternyata selama ini aku ditipu oleh asumsiku sendiri bahwa dia juga memperjuangkan cinta kami.

“Cemen amat sih, laki lo. Baru terbentur masalah seuprit doang, mainnya mutusin anak gadis orang. Via DM instagram pula.” Suara geram Akira kembali membawaku ke alamnya.

Kutatap layar LCD yang menampilkan kehidupan para singa di Afrika. Tayangan favorit pria menyebalkan yang duduk di sampingku selain film bokep di laptopnya. Pria itu asyik sibuk mengutuk dan mengumpati mantanku.

Tak terasa setengah jam berlalu begitu cepat. Pria di sampingku sepertinya sudah puas menyumpah serpahi mantan pacarku karena dia kembali asyik menonton tayangan kehidupan liar di Afrika yang sedang di putar oleh National Geographic Channel.

Tiba-tiba sofa yang kududuki bergerak. Kulihat Akira berjalan menuju kulkas.

“Are you drink a cup of coffee or a bottle of milk?” tanyanya sembari melihat isi kulkasku.

Ketika aku ingin menjawab pertanyaannya, tiba-tiba aku teringat lalu berseru, “Sejak kapan lo merasa ini apartemen milik lo? Tiba-tiba nawarin minuman ke gue. Harusnya gue yang nawarin minuman ke lo?”

“Rupanya kesadaran lo udah kembali ,.” ujarnya menatapku sambil mengeluarkan senyum menyebalkan.

“Sejak lo putus dari monyet Jerman itu dan mengurung diri di kamar, sejak itu pula gue jadi pemilik sebagian besar apartemen lo. Bagian lo cuma kamar dan seisinya. Itupun harus bayar uang sewanya” lanjutnya sarkas.

“Brengsek!” Teriakku bangkit dari sofa, bersiap untuk menyerang Akira yang sepertinya juga sudah bersiap untuk melarikan diri.

***

Posted in Cerita Hani, Cerita Pendek, Fiksi

181.440.000

Note: Halo readers… Apa kabar? Kali ini tulisan yang aku unggah adalah cerpen yang pernah kutulis beberapa bulan silam. Selain aku posting di blog ini, tulisan ini aku posting di  wattpad-ku 

Selamat membaca..

***

Aku melangkah cepat, keluar dari lift dan sesegera mungkin menuju unit apartemenku. Aku lelah sekali, setelah menjalani serangkaian rapat dan wawancara terkait proyek baru di kantorku.

Belum sempat aku membuka pintu unit apartemenku, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Ternyata sebuah Whatsapp dari manajer divisiku. Isinya menanyakan progress dari rapat dan wawancara yang tadi kulakukan. Pesan whatsapp tersebut segera ku berikan balasan. Setelahnya aku membuka pintu unit apartemenku.

Akhirnya, kamu berhasil memasuki apartemenmu, Kiandra Putri

***

Di sinilah kini aku berada, apartemenku. Ruangan seluas 35 m2 yang telah menemaniku selama 5 tahun ini. Kudaratkan bokongku di atas sofa empuk. Berleha-leha, jelas itu yang sekarang kulakukan sambil menonton fashion channel dan meminum coklat dingin yang kuambil dari kulkas.

Itulah rutinitas yang selalu aku lakukan setelah pulang dari kantor. Aku Kiandra Putri. Aku bekerja sebagai asisten manajer bidang community development di salah satu perusahaan ternama di Indonesia. Bagi teman-teman yang mengenal latar belakangku, pekerjaan yang kutekuni sekarang sangat berbeda jauh dengan keilmuanku karena dasar keilmuanku adalah seorang teknokrat. Aku tak peduli dengan itu, yang penting aku suka menjalani pekerjaanku dan aku tidak terbebani dengan itu semua.

Orang-orang yang melihat kehidupanku saat ini selalu mengakatakan bahwa hidupku sempurna. Punya karir yang bagus, gaji yang lumayan, berprestasi baik di kantor maupun dalam di luar kantor, dan punya pacar yang sempurna. Mereka memprediksi dalam waktu dekat, kami akan melangkah menuju pernikahan.

Hmm… pacar yang sempurna. Kata-kata yang membuat aku ingin tertawa hambar. Kenyataannya pacar yang sempurna hanya ada dibayangan otak mereka yang melihat dari luar, kenyataannya aku dan dia, jauh dari kata-kata itu. Aku tidak bisa mendeskripsikan hubungan macam apa yang aku dan dia jalankan sekarang. Entah masih bisa disebut pacar, atau mudur dari tahap itu. Aku tidak tahu.

Sebuah dering menginterupsi kegiatan melamun sembari berleha-lehaku. Kuambil smartphone dari ransel harianku. Ransel yang membuatku dijuluki kura-kura. Tidak salah juga. Karena motif ranselku mirip dengan tempurung kura-kura. Kutatap layar smartphone-ku, melihat nama yang memanggilku.

“Giovand Handaya,”ucapku lirih.

Alih-alih, panggilan tersebut kuangkat, aku membiarkan smartphone-ku berdering hingga akhirnya berhenti sendiri. Setelah dering smartphone itu berhenti, kupejamkan mataku. Perlahan kutarik nafas lalu kuhembuskan, kegiatan yang kulakukan berulang hingga aku merasa tenang.

Hampa. Itu hal yang kurasakan saat ini. Bukan rasa yang seharusnya muncul ketika pacar yang terpisah jarak ribuan kilometer menelpon. Harusnya rindu yang menggebu, antusias, ataupun perasaan-perasaan yang serupa bukan sebaliknya. Entah kemana rasa itu hilang?

Giovand Handaya.

Aku terkenang pada waktu itu. Beberapa tahun yang lalu. Ketika Giovand Handaya dan Kiandra Putri lebih muda dibanding saat ini.

Kak Gio, begitu aku memanggilnya, seseeorang yang tak sengaja aku kenal dalam salah satu kepanitiaan di kampus. Orang yang mencuri perhatianku dengan perhatiannya. Orang yang selalu mendengarkan keluh kesahku terkait akademik maupun kehidupan pribadiku.

Terjebak. Ya kami sama-sama terjebak dalam konsekuensi jalan yang telah kami ambil lima tahun yang lalu. Ketika aku memutuskan membiarkan Gio mengejar cita-cita untuk bersekolah di luar negeri dan Gio memilih meninggalkan aku untuk mengejar cita-citanya. Jalan yang kami harapkan memperkokoh hubungan kami bukan sebaliknya.

Awal-awal setelah kepergian Giovand, aku merasa kesepian. Perbedaan jarak dan waktu membuat delay komunikasi di antara kami. 6 jam, perbedaan waktu Indonesia- Jerman, lebih tepatnya Jakarta-Freiburg. Masa-masa awal Gio di Freiburg adalah masa-masa berat dalam kehidupanku karena aku mulai sibuk dengan perkuliahan dan perkomunitasan.

Setelah menginjakan kakinya di Benua Biru, Gio baru bisa menghubungiku 3 dari setelah keberangkatannya dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dalam komunikasi pertama setelah dia tiba di Jerman, Gio menceritakan kegiatannya yang harus dilakukannya setibanya di Jerman, banyak yang harus dia urus seperti pelaporan diri ke kedubes, pelaporan diri ke Consorsium UE sebagai penerima beasiswa Erasmus Mundus, mendatangi universitas dan mencari tempat tinggal. Tentu berbeda sekali antara orang yang datang sebagai pelancong dengan orang yang datang untuk tinggal sementara.

Terkadang pikiran negatif muncul ketika balasan whatsapp dari Gio delay hingga 3-4 jam. Atau ketika di media sosial beredar foto-foto Gio dengan teman perempuannya yang rata-rata bule.

Untuk menghilangkan pikiran negatif, aku mulai menenggelamkan diri dengan kegiatan perkomunitasan. Dua komunitas kuikuti secara serius. Tentunya kedua komunitas tersebut sesuai dengan minat dan keilmuanku. Kehidupan perkomunitasan membuat aku sedikit melupakan pikiran negatif itu. Perkomunitasan itu membuat aku mengenal teman-teman yang baru yang memiliki passion yang sama, dan menyadarkan bahwa hobiku dapatku pergunakan sebagai alternatif mendapatkan pundi-pundi emas selain ijazahku.

Kegiatan yang menyita waktu dan pikiran pun bertambah setelah masa-masa perkuliahanku dimulai. Menjalani perkuliahan dengan jurusan yang saling beririsan, membuat aku dan Gio sering berdiskusi via whatapps, line, dan skype. Namun tetap, waktu menjadi kendala utama kami berkomunikasi. Perkuliahan dan perkomunitasan membuat waktuku berkurang drastis. Terkadang whatapps/line dari Gio baru sempatku balas sehari setelah beraktivitas. Ini awal aku membentuk duniaku sendiri. Duniaku tanpa Gio ataupun memiliki irisan dengannya.

Lama kelamaan aku nyaman dengan dunia yang kubentuk itu. Sedikit demi sedikit dunia aku dan Gio mulai tergeser dan tergantikan dengan dunia baru. Lama-kelamaan aku tersesat di dunia tersebut, dan buruknya lagi aku mulai mengabaikan keberadaan Gio.

Aku menyadari aku terjebak di dunia yang kubentuk tanpa Gio. Bukannya panik karena terjebak dalam dunia tanpa Gio, responku malah sebaliknnya, aku menikmati ketersesatan itu

Ternyata bukan cuma aku saja yang terjebak di dalam duniaku, Gio pun mengalami hal yang sama. Dia terjebak dengan dunianya yang 180 derajat berbeda jauh dengan duniaku. Rutinitas perkuliahannya, pertemanan dengan teman-temannya di Freiburg, perbedaan waktu dan tempat serta petualangannya ke 39 negara dalam waktu lima tahun ini. Kehidupan di Eropa yang berbeda dengan di Indonesia. Tiap petualangannya ke negara-negara tersebut, membawa bencana besar terhadap hubungan kami, yaitu lost contact.

Alah satunya, ketika Gio mengunjungi China, maka otomatis dia hanya bisa bertukar pesan denganku via email. China adalah negara akun media sosial diblokir, dia mengirimkan pesan melalui email yang sialnya aku baca 5 hari kemudian.

Mengakses layanan media sosial dan berita internasional di Negara China tidak semudah dan segampang mengaksesnya di Indonesia. Pemerintah China memberlakukan kebijakan Great Firewall, semacam pembatasan dan sensor terhadap situs berita dan layanan media sosial tertentu.

Beberapa media sosial seperti Facebook, WhatsApp, Instragram, Twitter, YouTube hingga berbagai portal media dan browser internasional sengaja diblokir. Jika ingin menggunakan media-media tersebut, Gio harus menggunakan jaringan VPN (Virtual Private Network). Kecpatan koneksinyapun tergolong lambat. Padahal dengan media sosial itulah yang memudahkan komunikasiku dan Gio. Selain aksesnya mudah, biaya yang kami keluarkan lebih murah dibandingkan harus cara lain.

Bebeda lagi ketika dia mengikuti pertukaran pelajar di Universitas Colombia selama 3 bulan. Waktu menjadi dalang dari semua pertengkaran aku dan Gio. Beda waktu New York- Bandung selama 12 jam membuat kami merasakan jetlag. Kondisi yang mirip dengan lirik lagu Simple Plan featuring Natasha Bedingfield yang berjudul “Jetleg”.

You say good morning

When it’s midnight

Going out of my head

Alone in this bad

I Wake up to your sunset

And it’s driving me mad

I miss you so bad

***

Satu jam berlalu dengan begitu cepat. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri mengenai aku yang tersesat dengan duniaku yang baru, Gio yang tersesat dengan kehidupannya yang baru di benua biru, aku yang ingin memperbaiki semua sementara aku tidak tahu apa yang dirasakan Gio dan banyak kemungkinan lainnya. ‘Ya Tuhan… aku sibuk dengan segala kemungkinan yang akan terjadi tanpa mencoba mengomunikasikannya dengan Gio,’ jerit batinku.

‘Aku tahu aku salah terlalu terbuai dengan dunia baruku yang begitu menarik sehingga melupakan adanya Gio. Kesibukan yang membuat aku terjebak di dalamnya. “Sialnya aku tak tahu cara untuk kembali,” sesalku dalam hati.

Smartphoneku kembali berdering…

Giovand Handaya is calling…

Aku masih diam mematung, menatap layar datar smartphoneku. Tujuh puluh bulan waktu kebersamaan aku dan Gio. Di waktu yang apabilla dikonversi ke dalam detik maka akan diperoleh angka sebesar 181.440.000 detik. Itulah banyaknya detik yang kulalui sejak pertama aku dan Giovand menjadi kita. Angka yng fantastis bila dikonversi lagi menjadi milidetik atau nano. Apalagi jika dikonversi menjadi rupiah. Wow… mungkin aku sudah menjadi salah satu orang terkaya di Indoneisa.

181.440.000 detik, angka yang menunjukkan rentangan waktu yang kami lalui untuk menyelesaikan setiap babak kehidupan yang telah kami lalui bersama. Angka yang akan bertambah lebih banyak lagi ataukah akan terhenti dalam beberapa waktu ke depan.

Aku gamang…

Renunganku terhenti ketika smartphoneku kembali berbunyi..

Giovand Handaya is calling…

Aku tak punya banyak waktu. Waktuku untuk merenung telah usai. Saatnya aku memutuskan menambah jumlah detik yang dalam hitungan di atas atau mencukupkannya hingga beberapa waktu ke depan. Aku tak tahu jalan untuk kembali ke kehidupan aku dan Gio lima tahun yang lalu. Menikmati detik-detik waktu bersama seperti dulu. Namun, kami masih punya pilihan. Semakin tersesat dengan pilihan awal atau mencari jalan untuk kembali menyatu. Pilihan yang harus kukomunikasikan dengannya dalam beberapa ribu detik ke depan. Dengan berat hati, panggilan tersebut kuangkat.

“Gio…”

***

Posted in Komunitas Aleut, Reposting, Resensi Buku, Tumblr

[Reposting From Tumblr] [RESENSI BUKU] Cinta Tak Pernah Tua: Persoalan Hidup Orang-Orang di Sekitar Samin

Berhubungan dengan pemblokiran Tumblr di Indonesia sejak tanggal 5 Maret 2018 oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo), saya me-repost beberapa tulisan yang pernah saya muat di tumblr.com ke dua blog saya yaitu duniahaniii.blogspot.com yang telah ada dari tahun 2010 dan blog ini haniseptiarahmi.wordpress.com (blog yang telah lama saya buat, namun tak pernah saya jamah). Untuk ke depannya, saya belum memastikan di antara kedua blog tersebut, blog mana yang akan menjadi blog utama dan secara berkala saya update

 

 

Judul Buku   : Cinta Tak Pernah Tua

Penulis        : Benny Arnas

Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama

Kategori      : Antologi Cerpen

Tebal Buku  : vi + 132 halaman

Cetakan       : (Pertama) September 2014

Dokumentasi Tumblr Cinta Tak Pernah Tua

Dalam kelas resensi kedua Komunitas Aleut, saya mengangkat antologi Benny Arnas berjudul “Cinta Tak Pernah Tua” sebagai bacaan yang akan saya resensi. Benny Arnas, pemuda kelahiran Lubuklinggau, Sumatera Selatan, termasuk nama baru dalam dunia penulisan sastra Indonesia. Karya pertamanya yang berjudul Meminang Fatimah terbit tahun 2009. Tahun tersebut, tahun yang sama ketika ia menerima Hadia Sastra Batanghari dari Gubernur Sumatera Selatan mengawali kiprahnya dalam penulisan sastra.

“Cinta Tak Pernah Tua” merupakan kumpulan cerpen-cerpen Benny Arnas yang pernah dimuat di pelbagai media ternama seperti Jawa Pos, Republika, dan Media Indonesia. Terdapat 12 cerpen dalam antologi ini yang saling kait-mengait antara satu cerpen dengan lainnya. Ini pula yang menjadi kelebihan dari antologi cerpen ini. Umumnya, antologi cerpen yang pernah saya baca keterkaitan terbentuk dalam cakupan tema atau penulis, namun antologi menawarkan keterkaitan persoalan yang menimpa tokoh utama dengan orang-orang terdekatnya. Tokoh utama dalam antologi ini adalah Tanjung Samin, seorang veteran dengan riwayat memiliki lima istri. Dari istri pertamanya, Maisarah, Samin memiliki tiga orang anak yaitu Musral, Badri, dan Misral. Kedua anak mereka yaitu Musral, Badri mati diusia muda pada musim hujan panas.

Tema dalam antologi ini beragam mulai dari kehilangan anak, kesetiaan, poligami, hingga kecemburuan mewarnai kehidupan Samin. Dari 12 cerpen dalam Cinta Tak Pernah Tua, ada dua cerpen yang saya sukai yaitu “Belajar Setia” dan “Senja yang Paling Ibu”. Pada cerpen Belajar Setia mengisahkan Misral, salah seorang anak Samin  pergi menemui Mayang Nilamsari binti Umar Hamid atas permintaan ayahnya. Mayang tak lain dan tak bukan merupakan bekas pacar ayahnya, keturunan persirah2) di Kayuara. Ketika Samin melamarnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, keluarga persirah Kayuara ini menolak lamaran tersebut. Samin yang patah hati memilih menerima perjodohannya denga Maisarah Syukur, kerabat jauhnya tanpa mengetahui bahwa kekasih yang memilih untuk hidup melajang seumur hidupnya, menanti kedatangan Samin.

Saat saya membaca cerpen pertama dalam antologi yaitu “Pengelana Mati dalam Hikayat Kami”, Benny Arnas menempatkan dirinya seorang narator dalam pertunjukkan teater dengan memberi sapaan kepada pembaca.  ”Kepada mereka, ingin kukenalkan dirimu. Karena kau adalah mula segala cerita dan hikayat di atas hikayat…”. Gaya penulisan yang mengingatkan saya pada cerpen “Robohnya Surau Kami”. Sebelum menuturkan cerita, AA Navis juga melakukan hal yang sama “Kalau beberapa tahun yag lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar…” Dalam cepen “Senja Paling Ibu”, Benny Arnas secara jelas membagi tubuh cerpen tersebut menjadi mukhadimah dan khatimah. Gaya penulisan ini menimbulkan kedekatan antara pembaca dan penulis seperti ibunda yang mendongengkan sebuah hikayat kepada anaknya sebelum tertidur.

Dalam Antologi cerpen ini Benny Arnas mencoba mengangkat suasana kehidupan masyarakat pedesaan Melayu di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan pasca kemerdekaan (sekitar 1950-an hingga 1990-an). Kiasan-kiasan, diksi serta frasa-frasa yang kental dengan nuasa Melayu hadir menjadi pemanis setiap kisah dalam antologi ini seperti waktu meninggikan dan menggemukkan pepohonan, penindas berkulit jagung, wajahmu seperti kembang sepatu di dekat api membara dan lainnya. Tak hanya sebagai pemanis, namun sarat akan makna mendalam. Bukan orang Melayu jika tak kenal dengan kiasan, sepertinya itu yang ingin disampaikan Benny Arnas dalam setiap cerpen di samping isi cerita.

Dalam setiap jeda halaman antara satu cerpen dengan cerpen lain, Benny Arnas menyelipkan sketsa-sketsa karya Abdullah Ibnu Thalhah, kartunis dari Tabloid Cempaka, Semarang. Sketsa-sketsa tersebut secara garis besar menggambarkan salah satu fragmen dari kisah yang ingin disampaikan dalam setiap cerpen. Walaupun dari pengamatan saya, ada yang penggambarannya tidak sesuai seperti sketsa untuk cerpen “Muslihat Hujan Panas”.

Walaupun antologi ini terdiri dari 12 ide penceritaan yang menarik, namun bukan perkara mudah untuk memahami setiap ceritanya. Seperti tipikal sastra melayu yang sarat akan diksi, dan kiasan sebagai bunga tulisan menyebabkan pembaca dituntut memilki kesabaran dan konsentrasi ekstra untuk memisahkan antara diksi dan kiasan yang baur sehingga pembaca menyerap makna yang terkandung dalam setiap cerpennya.

Apabila pembaca berhasil mengatasi masalah tersebut, dapat dilihat dalam menuliskan cerita –bahkan yang pelik sekalipun, Benny Arnas dapat memikat pembaca untuk tetap menikmati. Dalam penuturan ideologi, gagasan, dan presepsi, Benny Arnas memiliki cara dan gaya tersendiri sehingga kisah yang ditulisnya memilki tempat tersendiri dihati pembaca.

                                                      ***

Kosakata:

1)an·to·lo·gi n kumpulan karya tulis pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang.

2) persirah: (Belanda: margahoofd) adalah kepala pemerintahan marga pada masa Hindia Belanda di wilayah Zuid Sumatra (Sumatera Selatan yang wilayahnya bukan seperti saat ini). Pesirah merupakan seorang tokoh masyarakat yang memiliki kewenangan memerintah beberapa desa. Istilah pesirah di Sumatera Selatan masih digunakan hingga tahun 1970-an, karena perundang-undangan di Sumatera Selatan masih dipengaruhi oleh peraturan-peraturan yang bersumber dari kebijakan Hindia Belanda

 

Posted in Komunitas Aleut, Reposting, Resensi Buku, Tumblr

[Reposting From Tumblr] [RESENSI NOVEL] Jugun Ianfu, Jangan Panggil Aku Miyako: Kisah Tragedi Cinta Seorang Jugun Ianfu

Berhubungan dengan pemblokiran Tumblr di Indonesia sejak tanggal 5 Maret 2018 oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo), saya me-repost beberapa tulisan yang pernah saya muat di tumblr.com ke dua blog saya yaitu duniahaniii.blogspot.com yang telah ada dari tahun 2010 dan blog ini haniseptiarahmi.wordpress.com (blog yang telah lama saya buat, namun tak pernah saya jamah). Untuk ke depannya, saya belum memastikan di antara kedua blog tersebut, blog mana yang akan menjadi blog utama dan secara berkala saya update

 

 

Judul Novel             : Jugun Ianfu, Jangan Panggil Aku Miyako

Penulis                    : E. Rokajat Asura

Penerbit                  : Edelwies

Katagori                  : Novel Sejarah

Tebal Novel            : 321 halaman

Cetakan Pertama   : Maret 2015

Dokumentasi Tumblr Jugun Ianfu Jangan Panggil Aku Miyako

Enang Rokajat Asura, penulis novel bergendre sejarah yang saya kenal melalui karya beliau Dwilogi “Prabu Siliwangi” dan “Wangsit Siliwangi” terbitan Edelwiss 2009. Perkenalan saya dengan berlanjut ketika saya berkunjung ke Rumah Buku, di salah satu sudut ruang karya terbaru beliau menghiasi rak-rak display toko buku tersebut. Ada dua karya beliau terpajang Kupilih Jalan Gerilya, sebuah novel biografi Panglima Jendral Soedirman dan Jugun Ianfu, Jangan Panggil Aku Miyako. Saya pun memilih novel E. Rokajat Asura, Jugun Ianfu, Jangan Panggil Aku Miyako sebagai bahan bacaan saya. Sepengetahuan saya tak banyak bacaan ataupun novel yang mengangkat kisah kehidupan bangsa Indonesia pada Zaman Pendudukan Jepang atau Perang Asia Timur Raya terutama tentang “comfort women” atau Jugun Ianfu. Beberapa bacaan yang penah saya baca mengenai Jugun Ianfu seperti Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer (Pramoedya Ananta Toer); Momoye, Mereka Memanggilku (Eka Hindra); serta Cantik itu Luka (Eka Kurniawan).

“Jepang itu lebih kejam dibandingkan Belanda”.

       (Anonim)

Setidaknya novel ini memberikan gambaran salah satu bentuk kekejaman Kekaisaran Jepang terhadap perempuan Indonesia. Novel “ Jugun Ianfu, Jangan Panggil Aku Miyako” merupakan sebuah mengisahkan kehidupan seorang remaja putri pada periode 1942-1945. Lasmirah, begitu remaja putri berasal dari Suryotarunan, belum pernah mengalami menstruasi, tak pernah membayangkan takdirnya akan menjadi “Ransum Nippon”. Impiannya untuk menjadi seorang penyanyi terkenal di Borneo pupus sudah. Zus Mer, seorang kenalan di Suryotarunan menjanjikan padanya menjadi penyanyi terkenal di Borneo, malah mengantarkan Lasmirah hidup menjadi seorang Jugun Ianfu di Ianjo Telawang selama kurun waktu Perang Timur Raya.  “Lasmirah”, nama yang memiliki arti berkilauan, kini kehilangan kilauannya, berganti dengan Miyako.

Ianjo Telawang, sebuah rumah bordil militer daerah di Kalimantan Selatan, menjadi tempat yang menyimpan kenangan pahit para penghuni tak terkecuali Miyako. Tak hanya menggoreskan kenangan pahit Miyako yang menghantuinya seumur hidup  sebagai seorang Jugun Ianfu,  di dalam Ianjo Telawang inilah Miyako menemukan dua orang pria yang mencintainya dengan cara berbeda. Cinta pertama diperoleh dari seorang perwira menengah atas angkatan darat Jepang, tamu dari Ianjo Telawang bernama Yamada. Sosok Yamada memberikan kenyamanan dan harapan keluar dari Ianjo. Yamada memberikan janji untuk  memiliki keluarga dan hidup di Jepang ataupun Jawa. Namun, sosok ini pula yang menyebabkan Miyako beberapa kali bermasalah selama di Telawang.

Cinta kedua berasal dari seorang tentara PETA yang tinggal bersama keluarga pemusik Sahilatua di sebelah barat Ianjo Telawang bernama Pram atau Pramudia. Sebelum perkenalan “resmi” yang disponsori Ayumi atau Rosa, salah seorang penghuni Ianjo Telawang dan pemusik Sahilatua, secara kebetulan Miyako pernah melihat Pram sebelum keberangkatannya ke Borneo di Stasiun Pasar Turi. Pada pemuda inilah, hati Miyako tertambat. Tak hanya menjanjikan mengeluarkan Miyako dari Telawang, pada akhir kisah dia pula yang mengusahakan agar hal itu terwujud. Tak hanya janji semata!

Secara garis besar, novel “Jugun Ianfu, Jangan Panggil Aku Miyako” mengadaptasi kisah hidup Mardiyem, seorang Jugun Ianfu di Asrama Telawang yang pernah ditulis oleh Eka Hindra dan Koichi Kimura dengan judul “Momoye, Mereka Memanggilku”. Alur cerita yang maju mundur menyebabkan novel ini bukanlah bacaan yang dapat dibaca “sekali duduk”. Dibutuhkan konsentrasi dan keseriusan dalam membaca dan memahami isi novel. Untuk mengambarkan situasi kehidupan Miyako dan Ianjo Telawang, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga diluar cerita.

Sebagai novel sejarah, “Jugun Ianfu, Jangan Panggil Aku Miyako”, memiliki batas terkait konteks kejadian, tempat, dan waktu. Hal dapat menjadi kelemahan novel ini, penceritaan terasa monoton, terlebih lagi bagi pembaca yang sebelumnya telah membaca  “Momoye, Mereka Memanggilku”. Namun, apabila penulis melakukan eksplorasi yang lebih mendalam dari segi materi, ide penceritaan, dan pemilihan kata, akan membuat novel ini yang lebih menarik lagi.

Terlepas dari kekurangan tersebut, novel menjadi salah satu dari sedikit tulisan yang mengangkat tema Jugun Ianfu. Selama ini –sepengetahuan saya, keberadaan Jugun Ianfu selama Zaman Pendudukan Jepang merupakan fakta sejarah yang tidak pernah dibahas dalam pelajaran sejarah di tingkat Sekolah Menengah. Hadirnya novel ini dapat memberikan informasi dasar mengenai Jugun Ianfu. Pengemasan informasi yang dilakukan secara populer, menyebabkan pembaca mudah menangkap keseluruhan isi dari tulisan E. Rojakat Asura ini –di luar konteks alur cerita.

Bagi pembaca yang ingin mengetahui salah satu sisi kelam Perang Asia Timur Raya bagi Indonesia, direkomendasikan untuk membaca buku ini. Selamat membaca!

Catatan:

Resensi novel “Jugun Ianfu, Jangan Panggil Aku Miyako” ini sempat saya presentasikan dalam kelas resensi buku di Komunitas Aleut. Terlepas dari segi isi novel, topik jugun ianfu yang diangkat novel ini menarik perhatian peserta kelas resensi dan pembina Komunitas Aleut untuk mengetahui lebih lanjut praktik Jugun Ianfu di negara bekas jajahan Jepang selama Perang Asia Timur Raya. Banyak pertanyaan-pertanyaan muncul ketika saya menyampaikan resensi novel ini dalam bentuk lisan seperti: Apakah praktek jugun ianfu yang terjadi sepanjang Perang Asia Timur Raya dilegalkan oleh Kaisar Hirohito Apa yang menjadi alasan Kaisar melegalkan praktik jugun ianfu?; Bagaimana nasib ex-jugun ianfu setelah berakhirnya Perang Asia Timur Raya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan, tentu saja saya harus mengkomparasi isi novel ini dengan beberapa buku lain yang mengangkat topik jugun ianfu ini.

Sumber Foto: twitter @RokajatAsura

 

Posted in Reposting, Tumblr

[Reposting From Tumblr] Mendengarkan pada Sesi Sharing Komunitas Aleut : Hear or Listen

 

Berhubungan dengan pemblokiran Tumblr di Indonesia sejak tanggal 5 Maret 2018 oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo), saya me-repost beberapa tulisan yang pernah saya muat di tumblr.com ke dua blog saya yaitu duniahaniii.blogspot.com yang telah ada dari tahun 2010 dan blog ini haniseptiarahmi.wordpress.com (blog yang telah lama saya buat, namun tak pernah saya jamah). Untuk ke depannya, saya belum memastikan di antara kedua blog tersebut, blog mana yang akan menjadi blog utama dan secara berkala saya update.

 

(8 September 2013 – 8 Desember 2013) Tak terasa sudah tiga bulan saya menjadi bagian dari tim koordinator aleut, yang terdiri atas Arya Vidya Utama, Atria Dewi Sartika, Mohamad Salman, Mentari Qorina Alwasyiah, Vecco Suryahadi Saputro dan saya sendiri, Hani Septia Rahmi. Selama kurun waktu itu pula, banyak hal yang saya dapatkan. Mulai dari belajar mengatur admistrasi keanggotaan Komunitas Aleut, kepemimpinan, cara menggali informasi dari narasumber, belajar bahasa sunda, mengenal lebih dekat kota Bandung dan kawasan pendukungnya serta pengalaman-pengalaman berharga yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Namun dari sekian banyak hal yang saya dapatkan selama menjadi salah satu koordinator Komunitas Aleut, ada tiga hal yang hingga sekarang masih sulit untuk saya lakukan yaitu Mendengarkan (Listening), Membaca (Reading), dan Menulis (Writing).

 Well, untuk pertama, saya akan membahas tentang “mendengarkan”.

Kegiatan “ngaleut” biasanya diakan pada setiap hari minggu. Satu kali ngaleut tidak bisa ditentukan lama waktunya. Terkadang hanya setengah hari, terkadang bisa seharian, dari pagi sampai sore. Dalam “Ngaleut” terdiri atas tiga sesi utama yaitu: sesi perkenalan, sesi jalan-jalan, dan sesi sharing. Sesi perkenalan, berada diawal kegiatan. Setiap orang yang mengikuti kegiatan aleut diwajibkan memperkenalkan diri, nama, instansi. Dengan ada perkenalan, dapat menimbulkan keakraban anggota lama dan anggota baru. Di Komunitas Aleut tidak ada yang namanya senioritas.

Sesi jalan-jalan adalah sesi yang paling ditunggu teman-teman di Komunitas Aleut. Pada sesi ini teman-teman diajak berkeliling suatu kawasan, sesuai dengan tema ngaleut yang telah ditentukan. Setahun yang lalu, sesi jalan-jalan ini lebih terkoordinir karena dikuti dengan pemanduan oleh beberapa penggiat aktif aleut. Namun, pada masa kepengurusan saat ini, kegiatan jalan-jalan ini lebih bersifat exploring, dan learning by doing. Baik koordinator, penggiat aktif, anggota lama, ataupun baru diharapkan mencaritahu sendiri tentang objek-objek yang akan ditemui.

Sesi terakhir dan inti dari seluruh kegiatan aleut pada Hari Minggu yaitu sesi sharing. Menurut saya ini merupakan sesi terberat. Dalam sesi sharing, setiap peserta diwajibkan untuk bercerita tentang apapun yang terkait dengan kegiatan Aleut. Bisa dimulai dari menceritakan pengalaman, kesan selama perjalanan, hingga pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan tema kegiatan aleut saat itu. Dalam melakukan perjalanan, saya yakin, setiap orang memilki persepsinya masing-maisng. Pemikiran dan pemahamam setiap orang berbeda dalam mengamati suatu objek atau fenomena yang terjadi, meskipun apa yang mereka sama. Ada yang mengamati dari sesi sosial, heritage, seru-seruannya, lingkungan, psikologi, dan lain sebagainya. Hal ini tergantung pada minat dan ketertarikkan dari masing-masing orang. Saya teringat pada kutipan kata yang terletak pada halaman pembuka dari buku “The Geography of Bliss: One Grump’s Search for the Happiest Places in the World” karya Eric Weiner.

Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku

___Paul Edward Theroux[1]

Dengan siapapun seseorang melakukan perjalanan, hasil perjalanan itu adalah hak miliknya. Hasil perjalanan yang saya maksud dapat berupa pendapat, pengalaman, ilmu, kesan, foto, ide, dan lainnya. Pada sesi ini, apa yang telah didapatkan selama perjalanan dibagi didepan publik. Selain melatih publik speaking setiap orang, juga melatih untuk melihat suatu problematika bukan hanya dari satu sisi saja tapi multisisi yang mengelilingnya. Setelah setiap orang mengeluarkan “hasil perjalanannya”, semua digabungkan menjadi suatu kesimpulan. Untuk menggabungkan semua pandangan tersebut, para koordinator harus menjadi “pendengar yang baik” agar semua pendapat setiap penggiat aleut dapat terangkum.

Pendengar memiliki kata dasar “dengar” yang diberi awalan pen-. Dalam bahasa inggris, terdapat dua kata yang memiliki arti “dengar” jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia yaitu “hear” dan “listen”. Menurut kamus online www.iword.com/idictionary, saya memperoleh keterangan tentang kata “hear” dan “listen” sebagai berikut:

(Listen)

Etyimology : Middle English listenen, from Old English Hylsnan; akin to Sanskrit Srosati he hears, Old English hlud load

Date: before 12 th centary

Transitive verb

Archaic : to give ear to: hear

Intransitive verb: 1:To pay attention to sound <listening to music> 2: to hear something with thoughtful attention: give consideration <listen to a plea> 3: to be alert to catch: an expected sound <listen for his step>

(Hear)

Etymology: Middle English heren, from Old English hieran; akin to Old High Germany horen to hear, and probably to Latin cavere to be on guard, Greek akouein to hear

Date: beafore 12th century

Transitive verb: [1] to perceive or apprehend by the ear [2] to gain knowledge of by hearing [3a.] to listen to with attetion; HEED [b] ATTEND <hear mass> [4a] to give a legal hearing to [b] to take tastimony from <hear witnesses>

Intransitive verb: [1]to have the capacity of apprehending sound [2a] to gain information: learn [b] to receive communication <have’t heard from her lately> [3] to entertain the idea-used in the negative <wouldn’t hear of it> [4]-often used in the expression Hear! Hear! To express approval (as during speech).

Setelah berdiskusi online dengan Lorraine Riva dan Hevi Lolita Putri, akhirnya saya memahami perbedaan antara hear dan listenHear adalah mendengarkan sambil lalu, contoh: I heard the othe day you passed your exams. Sedangkan listen mendengarkan dengan sepenuh hati, contoh: She listens to my story.

People hearing without listening

___(Lorraine Riva)

Kegiatan mendengarkan selalu kita praktekkan hampir setiap waktu. Seperti mendengarkan suara burung, suara dosen yang mengajar, curhatan teman, musik, dan banyak suara lain yang didengarkan. Namun, dari sekian banyak kegiatan mendengarkan yang dilakukan, jarang sekali konteks “listen” diaplikasikan. Kegiatan mendengarkan yang biasanya kita lakukan berada konteks “hear”. Dalam sesi sharing bentuk mendengarkan yang diperlukan adalah “listen”, mendengarkan dan memahami. Bermacam pendapat dari bermacam-macam pemikiran yang dapat ditemui dalam sesi ini. Mulai dari interpretasi menurut pendalam keilmuan dari masing-masing peggiat Aleut serta dilengkapi dengan teori-teori ilmiahnya hingga pendapat-pendapat yang terbentu dari obeservasi alat indra. Disinilah saya sebagai seorang koordinator harus mendengarkan dengan cermat semua pendapat dari penggiat aleut. Dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945, pasal 28 ayat 3  diatur tentang kebebasan mengeluarkan pendapat[2]. Dan setiap pendapat memiliki kesempatan hidup dalam satu forum.

Mendengarkan dalam forum ini adalah pelajaran yang hampir tiap minggu saya pelajari dalam Komunitas Aleut. Ketika mendengarkan pendapat orang, saya belajar untuk fokus telinga dan pikiran terhadap sumber suara yang saya dengarkan. Menangkap maksud dari pembicara. Selain itu, dalam mendengarkan dibutuhkan kesabaran ekstra dan pengendalian diri. Tidak semua orang memiliki kemampuan menyampaikan inti permasalahan secara tepat dan lugas. Sehingga, untuk mengetahuinya, saya harus mendengarkan orang tersebut berbicara sampai selesai. Itu membutuhkan kesabaran, apalagi berhadapan dengan orang yang memiliki suara dengan volume kecil. Satu lagi hambatan dalam mendengarkan adalah kebiasaan menyela ketika orang berbicara. Menurut saya ini kebiasaan buruk dan tanpa sadar, sering dilakukan. Dengan menyela pembicaraan seseorang, sama halnya membunuh pemikiran orang tersebut. Bahkan dapat menjatuhkan mental seseorang, terutama apabila orang yang disela itu belum terbiasa berbicara didepan umum.

Bagi saya, belajar mendengarkan dalam konteks listen salah satu pelajaran hidup yag dipelajari secara terus menerus. Dengan mendengarkan, saya belajar untuk menghargai serta mengapresiasi orang lain. Sayapun teringat dengan perkataan Bang Ridwan Hutagalung dalam satu sesi sharing ngaleut dengan tema Pendidikan dua tahun yang lalu ”Inti dari setiap kegiatan aleut adalah sesi sharing. Dalam sesi sharing saya belajar mendengarkan pendapat orang lain,menatap satu-persatu mata yang hadir, mendengarkan satu persatu pendapat dari masing-masing kepala yang datang. Ini tidak mudah, tapi harus dilakukan. Dengan kita mendengarkan pendapat mereka berarti kita menghargai dan mengapresiasi apa yang telah mereka lakukan ”.

Catatan :

[1]Paul Edward Theroux  (lahir 10 April 1941) merupakan seorang penulis catatan perjalanan (travel writer) dan novelis asal Amerika. Karya beliau yang terkenal adalah adalah catatan perjalanan berjudul The Great Railway Bazaar (1975). Tahun 1981, belaiu dianugrahi James Tait Black Memorial Prize untuk novel yang berjdul The Mosquito Coast

[2]Pasal 28 ayat 3 :Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.

Bandung, 2013

Posted in Cerita Hani, Daily Life Hani, Resensi Buku

Kisah Cinta Abe, Si Pilot

IMG_3284-ed.JPG
Penampakan Novel Posessive Pilot edisi PO

[Review Buku] Posessive Pilot

Kategori: U17+

Pengarang: Flara Deviana

Penerbit: Coconut Books

Cetakan: Pertama, Mei 2018

ISBN: 978-602-5508-29-4

Rating Pembaca: ****

 

Posessive pilot merupakan salah satu novel dari sekian banyak tulisan watpad yang diterbitkan oleh penerbit besar. Naskah ini merupakan tulisan watpad karya Flara Deviana yang mengalami ada beberapa tambahan bab dan penyesuaian antara bentuk cetak dan tulisan asli di watpad. Posessive Pilot merupakan karya ketiga Flara yang telah diterbitkan setelah My Sexy Room Mate (Hikaru Publishing, 2018) dan Rasa yang merupakan karya kolaborasinya dengan Bayu Permana (Hikaru Publishing, 2018).

Pilot Posessive menceritakan kisah percintaan Abercio Bagaskara. Selama 5 tahun terakhir, Abe memilih hidup sendiri sambil menunggu kemunculan kembali Kiandra Anindita, sahabat, sekaligus orang yang sangat berarti dalam kehidupannya. Kian pergi setelah Abe marah dan mengusir Kian dari kehidupannya. Setelah penantian selama lima tahun, Abe akhirnya bertemu Kian di rumah sakit karena Kania, adik Kian dirawat. Namun Kiandra tidak datang seorang diri, Kian membawa keluarga barunya, James dan Ana. Melihat Kian berbahagia dengan keluarga kecilnya, Abe mencoba untuk melanjutkan hidupnya yang terhenti akibat kepergian Kian.

Di tengah kegalauannya dengan kehadiran kembali Kian dan keluarga kecilnya, Abe bertemu dengan sosok Pita Athalia. Di mata Abe, Pita merupakan sosok yang menarik dan tertutup, berbeda dengan wanita-wanita yang dulu pernah hadir di dalam kehidupannya sebelum Kian pergi. Pita, sosok seorang yang kuat, mandiri, tegas sekaligus judes memberikan warna baru dalam kehidupan Abe. Kebersamaan mereka terjalin ketika Ronald (sahabat Abe, di sisi lain juga merupakan sahabat Pita) menawarkan pekerjaan kepada Pita untuk mendesain coffee shop milik Abe dan Ronald. Dari tawaran pekerjaan inilah hubungan sekaligus adu mulut Pita-Abe dimulai.

Secara garis besar, novel ini menceritakan ambiguitas perasaan dan tindakan Abe terhadap Kian dan Pita yang berujung konflik antara Abe dan Pita. Selain itu, di dalam novel ini, Flara mengangkat beberapa masalah sensitif yang dalam pandangan masyarakat seperti: wanita single di usia 30 tahun, ketertarikan seorang pria terhadap wanita yang lebih tua, dan status single mother.

Flara menggambarkan sosok Pita, adalah seorang wanita yang berada dalam kisan umur 30-an awal. Hal ini dapat terlihat dari kutipan percakapan berikut:

Nanti tambah tua, saya dengar. Usia tiga puluh itu renta dengan guratan di sekitar area mata dan kening,…”

“…Asli kamu udah ngga bisa berkilah kalo kamu salah satu anggota club gagal move on. Buktinya di umur kamu yang sekarang, tiga puluh tahun lho…”

Bagi wanita yang menginjak usian 30 tahun namun belum berkeluarga dianggap rentan dan tabu, khususnya bagi yang tinggal di negara-negara Asia di mana kultur budaya setempat masih mengakar kuat. Khususnya di Indonesia, berdasarkan data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dari tahun 1991 hingga 2012 menyatakan 59,9% remaja perempuan menyatakan usia ideal pernikahan bagi seorang wanita berada pada rentang 22-25 tahun. Hanya 0,7 persen remaja perempuan Indonesia yang menyatakan bahwa usia ideal menikah untuk seorang perempuan adalah lebih dari 30 tahun. Dari sudut pandang remaja laki-laki, usia 20-23 tahun dianggap sebagai rentang usia yang ideal bagi perempuan untuk menikah. Terlihat dari 56 persen remaja pria di Indonesia yang menyatakan bahwa perempuan berusia 20-23 tahun dinyatakan ideal dalam membangun rumah tangga. Sedangkan, satu persen remaja laki-laki menganggap bahwa usia ideal perempuan untuk menikah adalah lebih dari 30 tahun. Di sisi lain, mayoritas remaja laki-laki, 49 persen, menyatakan bahwa usia menikah ideal bagi mereka adalah 24-25 tahun. Usia menikah di Indonesia masih banyak dipengaruhi oleh  tempat tinggdal dan struktur sosial. Faktor teman sebaya juga mempengaruhi keputusan perempuan untuk menikah (Pradipta, Wahyuni, dan Sumarti, 2017)

Betapapun penjelasan yang diberikan, tetap tidak dapat menghapus stereotip dalam masyarakat bahwa wanita single 30-an ini bisa jadi seorang penyuka sesama jenis, pengejar karier yang ambisius, kriteria pendamping yang terlampau tinggi, lebih suka menjadi pelakor dan serangkaian stigma negatif lainnya.

Sosok Abe digambarkan lebih muda dua tahun dibandingkan Pita yang tersurat pada percakapan berikut:

Saya nggak nyangka, ternyata kamu lebih tua dari saya dua tahun.”Abe berhenti berjalan mundur, mengambil posisi persis di depan Pita.

Pernikahan dengan sosok pria lebih tua dibandungkan sosok wanita telah menjadi tradisi yang melekat dalam masyarakat di Indonesia. Sudah menjadi tradisi dalam sebuah pernikahan usia laki-laki lebih tua daripada istri (Abel & Kruger, 2008). Umumnya masyarakat cenderung memberi penilaian negatif kepada wanita yang memiliki hubungan dengan pria yang lebih muda. Penilai tersebut juga menjadi suatu ketakutan tersendiri ketika Pita bertemu dengan keluarga besar Bagaskara.

Eh, jangan. Masalah anak saja masih membuat keluarga kalian terguncang, jangan ditambah tentang umurku. Aku…”

Banyak faktor yang menjadi alasan masyarakat memiliki pandangan negatif terhadap hubungan dengan perbedaan usia wanita lebih tua. Pernikahan dengan perbedaan usia istri lebih tua rawan akan konflik, secara normatif masyarakat cenderung menerima jika usia istri lebih muda daripada suaminya (Tempo.co, 2015). Umumnya, konflik dapat terjadi menyangkut permasalahan ekonomi, komunikasi, dan mentalitas.

Terkuaknya status Pita sebagai single mother menjadi konflik pribadi yang disajikan dalam novel ini. Dalam novel ini, digambarkanan ketakutan Pita sebagai wanita dengan predikat sebagai “single mother” memulai suatu hubungan percintaan serius dengan orang lain. Stigma masyarakat terhadap terhadap single mother dan anak yang dilahirkan, perbedaan perlakuan, menjadi momok menakutkan bagi para single mother.

Pada novel ini, Flara memperkenalkan istilah single mother dan single parent. Di Indonesia sebutan single mother merupakan bahasa halus dari janda alias tidak memiliki suami, maka di Barat, seperti di negara Amerika, dan Australia, istilah single mother memiliki arti beda dari janda. Single mom mengartikan seorang wanita sebagai seorang ibu tanpa pendamping sedangkan single parent atau divorced woman pernah menikah tapi berpisah.

Banyak pelajaran hidup yang dapat dipetik dari Posessive Pilot ini. Gaya bahasa yang tidak baku, cendrung menggunakan bahasa gaul memudahkan generasi milenial memahami maksud yang ingin sampaikan Flara dalam cerita ini. Selain itu, dengan gaya bahasa tersebut menghindari pembaca dari kebosanan dan kekakuan. Walaupun menggunakan gaya bahasa yang informal, Flara masih memperhatikan penggunaan EYD dengan benar.

Novel ini juga ditulis berdasarkan beberapa sudut pandang. Namun secara umum, Flara mengambil sudut padang orang ketiga tunggal yaitu penulis.

Kelebihan lain dari novel ini, penulis mencantumkan caption Instagram dan Line yang membuat cerita keseluruhan cerita ini seolah-olah ini merupakan kisah nyata. Penulis juga melakukan riset mendalam mengenai penerbangan terutama percakapan antara pilot dengan petugas di menara pengawas. Kekurangan dari novel ini lebih ke kesalahan dalam penulisan terutama di bab-bab terakhir. Kontrol dari editor di sini sangat diperlukan agar menambah kesempurnaan novel ini. Saya sangat memiliki keyakinan bahwa novel ini akan dicetak ulang beberapa kali mengingat alur ceritanya menarik.

Penasaran untuk mengetahui kisah cinta Abe-Pita secara lengkap, silahkan cari novel ini di toko buku kesayangan Anda!

 

Posted in Cerita Hani, Path, Reposting

Rasa [Repost From Path]

Tidak selamanya kopi itu berwarna hitam.
Ada Cappuccino, Mochachino, Late dan lainnya, mereka juga kopi namun berwarna coklat cream..

Adapula kopi yang pahit, ada pula yang manis giung.
Beribu orang ke sana ke mari mencari kopi terbaik di dunia baik dari rasa, warna maupun pengolahan.

Namun pada satu titik saya meyakini bahwa minum kopi bukanlah masalah tentang kopi terbaik yang kamu minum melainkan pengalaman pribadi.

Ya… Rasa adalah pengalaman pribadi tentang sesuatu.

Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda terhadap rasa.

 

Wiki koffie, 3 Januari 2017

Posted in Cerita Pendek, Kuliner, Path, Reposting

Mencicipi Pannacotta Three Ways ala Warung Pasta [Repost From Path]

Hari ini saya mendapatkan kejutan tak terduga dari warung pasta yaitu Special Wedgram Free Dessert dari Warung Pasta, Bandung yaitu “Pannacotta Three Ways

Dari namanya, pannacotta merupakan salah satu dessert yang berasal dari Italia. Pannacotta merupakan gabungan dari 2 kata dalam Bahasa Italia: panna (yang berarti krim) dan cotta (yang berarti masak) sehingga pannacotta dapat diartikan sebagai krim yang dimasak.

Awalnya pannacotta disajikan sebagai hidangan penutup yang diperuntukkan untuk anak-anak yang tidak suka minum susu. Secara sederhananya pannacotta terbuat dari campuran krim, susu, gula, dan gelatin yang dipanaskan dalam sebuah wadah. Kemudian, ketika bahan-bahan telah tercampur merata, campuran tersebut dituangkan ke dalam cangkir, mangkuk, atau ramekin lalu didinginkan dalam kulkas selama beberapa jam hingga dingin. Setelah dingin pannacotta diberi saus karamel untuk menambah estetika makanan dan menggugah rasa. Agar lebih sehat, beberapa resep pannacotta menambahkan dengan irisan buah-buahan, dan coklat.

Dalam buku masakan Italia sebelum tahun1960-an, pannacotta tidak termasuk sebagai salah satu jenis makanan Italia. Namun tahun 2001, pannacotta menjadi salah satu makanan tradisional Italia yang berasal dari Piedmont. Konon, di kota ini, pannacotta pertama kali dibuat oleh sorang wanita Hongaria pada awal abad 20. Sebagian ahli sejarah makanan mengatakan bahwa pannacotta merupakan adaptasi dari bentuk puding tradisional seperti Sicilian Biancomangiare (salah satu pudding tradisional dari daerah Sisilia) ketika Italia di bawah kekuasaan Arab. Walaupun, Italia dikenal sebagai asal dari dessert ini, namun Amerika Serikat-lah yang mempopulerkan makanan ini dengan menambahkan bermacam variasi dalam penyajiannya.

WhatsApp Image 2018-10-15 at 8.10.07 PM
Pannacotta Three Ways ala Warung Pasta

Secara penyajian Pannacotta Three Ways ala Warung Pasta memiliki 4 lapisan pannacotta dengan warna (atas ke bawah) yaitu, putih , kuning, pink, dan putih. Masing-masing lapisan memiliki rasa yang berbeda untuk warna putih pada lapisan pertama dan terakhir, akan terasa rasa asli pannacotta yaitu vanilla. Sedangkan warna kuning memiliki rasa asam manis seperti manga dan lapisan ketiga yang berwarna pink, penikmat kuliner akan merasakan rasa asam khas buah stoberi. Untuk lapisan kedua dan ketiga, chef menambahkan pewarna makan dan esen buah.

Pada lapisan atas ditambahkan krim tanpa rasa, saus cokelat, buah stoberi, dan daun mint untuk menambah bentuk estetika pannacotta dan rasa. Penambahan krim tanpa rasa menurut saya sedikit berlebihan (karena pannacotta sendiri terbuat krim yang didinginkan) namun tidak membuat pannacotta terasa giung dan eneg. Namun, unsur tradisional terasa hilang karena tidak adanya saus karamel yang digantikan oleh saus cokelat

Penampilan   : 👍👍👍

Rasa.             : 👍👍👍👍

Harga             :  – (karena saya mendapatkan Pannacotta Three Ways sebagai giftaway dari Warung Pasta Bandung)

Akses menuju lokasi kuliner: 👍👍👍👍

Warung Pasta Bandung, 16 November 2016